Selasa, 07 Mei 2013

ASUHAN KEPERAWATAN ISTIRAHAT TIDUR




Description: Unejbaru



ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN PEMENUHAN KEBUTUHAN ISTIRAHAT DAN TIDUR



MAKALAH







oleh
Silvi Anita Uslatu Rodyah
NIM 112310101035






PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2012
Description: Unejbaru





ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN PEMENUHAN KEBUTUHAN ISTIRAHAT DAN TIDUR


MAKALAH

diajukan guna memenuhi tugas Mata Kuliah Ilmu Keperawatan Dasar IIIA







oleh
Silvi Anita Uslatu Rodyah
NIM 112310101035








PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2012

PEMBAHASAN

1.1        Konsep Fisiologis Istirahat Dan Tidur
1.1.1     Definisi
A.    Istirahat
Menurut Asmadi (2008), Kata istirahat mempunyai arti yang sangat luas meliputi bersantai menyegarkan diri, diam menganggur setelah melakukan aktivitas, serta melepaskan diri dari apa pun yang membosankan, menyulitkan, atau menjengkelkan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa istirahat merupakan keadaan yang tenang, rileks, tanpa tekanan emosional dan bebas dari kecemasan (ansietas). Menurut Wong (2008) tidur merupakan fungsi protektif yang dimiliki semua organisme memungkinkan terjadinya perbaikan dan pemulihan jaringan setelah aktivitas. Seseorang dapat benar-benar istirahat bila:
a. Merasa segala sesuatu dapat diatasi dan di bawah kontrolnya;
b. Merasa diterima eksistensinya baik di tempat tinggal, kantor, atau di manapun juga termasuk ide-idenya diterima oleh orang lain;
c. Mengetahui apa yang terjadi;
d. Bebas dari gangguan dan ketidaknyamanan;
e. memiliki kepuasan terhadap aktivitas yang dilakukannya;
f.  Mengetahui adanya bantuan sewaktu-tvaktu bila memerlukannya.

B.    Tidur
Tidur adalah suatu keadaan yang berulang-ulang, perubahan status kesadaran yang terjadi selama periode tertentu. Jika seseorang memperoleh periode tidur yang cukup, mereka merasa tenaganya telah pulih, hal ini diyakini bahwa tidur memberikan waktu untuk perbaikan dan penyembuhan system tubuh untuk periode keterjagaan yang berikutnya (Potter & Perry, 2005). Tidur merupakan suatu keadaan tidak sadar di mana persepsi dan reaksi individu terhadap lingkungan menurun atau hilang, dan dapat dibangunkan kembali dengan indra atau rangsangan yang cukup.
Tujuan seseorang tidur tidak jelas diketahui, namun diyakini tidur diperlukan untuk menjaga keseimbangan mental emosional, fisiologis, dan kesehatan. Seseorang dapat dikategorikan sedang tidur apabila terdapat tanda tanda sebagai berikut:
a. Aktivitas fisik minimal
b. Tingkat kesadaran yang bervariasi
c. Terjadi perubaban-perubaban proses fisiologis tubuh
d. Penurunan respons terhadap rangsangan dari luar.
Selama tidur, dalam tubuh seseorang terjadi perubaban proses fisiologis. Perubahan tersebut, antara lain:
a. Penurunan tekanan darah, denyut nadi;
b. Dilatasi pembuluh darab perifer;
b. kadang-kadang teriadi peningkatan aktivitas traktus gastrointestinal;
c. Relaksasi otot-otot rangka;
d. Basal metabolisme rate (BMR) menurun 10-30%.

1.1.2     Fisiologis tidur dan terjaga
Tidur melibatkan suatu urutan keadaan fisiologis yang dipertahankan oleh integrasi tinggi aktivitas system saraf pusat yang berhubungan dengan perubahan dalam system saraf peripheral, endokrin, kardiovaskuler, pernapasan dan muscular (Robinson, 1993). Tiap rangkaian diidentifikasi dengan respon fisik tertentu dan pola aktivitas otak. Peralatan seperti elektroensefalogram (EEG), yang mengukur aktivitas listrik dalam korteks serebral, elektromiogram (EMG), yang mengukur tonus otot dan elektrookulogram (EOG) yang mengukur gerakan mata, memberikan informasi struktur aspek fisiologis tidur.
Kontrol dan pengaturan tidur tergantung pada hubungan antara dua mekanisme serebral yang mengaktivasi secara intermitten dan menekan pusat otak tertinggi untuk mengontrol tidur dan terjaga. Sebuah mekanisme menyebabkan terjaga dan yang lain menyebabkan tertidur.
System aktivasi reticular ( SAR ) berlokasi pada batang otak teratas. SAR dipercaya terdiri atas sel khusus yang mempertahankan kewaspadaan dan terjaga. SAR menerima stimulus sensori visual, auditori, nyeri dan taktil. Aktivasi korteks serebral (mis. Proses emosi atau pikiran) juga menstimulasi SAR. Saat terbangun merupakan hasil neuron dalam SAR yang mengeluarkan katekolamin seperti norepinefrin ( Sleep Research Society, 1993 ).
Tidur dapat dihasilkan dari pengeluaran serotonin dari sel tertentu dalam system tidur raphe pada pons dan otak depan bagian tengah. Daerah otak juga disebut daerah sinkronisasi bulbar (bulbar synchronizing region, BSR ). Ketika seseorang mencoba tertidur, mereka akan menutup mata dan berada dalam posisi relaks. Stimulus ke SAR menurun. Jika ruangan gelap dan tenang, maka aktivasi SAR selanjutnya menurun. Pada beberapa bagian, BSR mengambil alih, yang menyebabkan tidur.

1.1.3     Siklus tidur
Secara normal pada orang dewasa, pola tidur rutin dimulai dengan periode sebelum tidur, selama orang terjaga hanya pada rasa kantuk yang bertahap berkembang secara teratur. Periode ini secara normal berakhir 10-30 menit, tetapi untuk seseorang yang memiliki kesulitan untuk tidur, akan berlangsung satu jam atau lebih. Berikut ini adalah gambar siklus tidur:
1.1.4     Tahapan tidur
Non Rapid Eye Movement (NREM)
1.    Tahap I NREM
a.  Tahap meliputi tingkat paling dangkal dari tidur
b.  Tahap berakhir beberapa menit
c.   Pengurangan aktivitas fisiologis dimulai dengan penurunan secara bertahap tanda-tanda vital dan metabolisme
d.  Seseorang dengan mudah terbangun oleh stimulus sensori seperti suara
e.  Ketika terbangun, seseorang merasa seperti telah melamun

2.    Tahap II NREM
a.  Tahap II merupakan periode tidur bersuara
b.  Tahap berakhir beberapa menit
c.   Untuk terbangun masih relative mudah
d.  Tahap berakhir 10 hingga 20 menit
e.  Kelanjutan fungsi tubuh menjadi lamban

3.    Tahap III NREM
a.  Tahap III merupakan tahap awal dari tidur yang dalam
b.  Orang yang tidur sulit dibangunkan dan jarang bergerak
c.   Otot-otot dalam keadaan santai penuh
d.  Tanda-tanda vital  menurun tetapi tetap teratur
e.  Tahap berakhir 15 hingga 30 menit

4.    Tahap IV NREM
a.  Tahap IV merupakan tahap tidur terdalam
b.  Sangat sulit untuk membangunkan orang yang tidur
c.   Jika terjadi kurang tidur, maka orang tidur akan menghabiskan porsi malam yang seimbang pada tahap ini
d.  Tanda-tanda vital menurun secara bermakna dibanding selama jam terjaga
e.  Tahap berakhir kurang lebih 15 sampai 30 menit
f.   Tidur sambil berjalan dan enuresis dapat terjadi

5.    Rapid Eye Movement (REM)
a.  Mimpi yang penuh warna dan tampak hidup dapat terjadi pada REM. Mimpi yang kurang hidup dapat terjadi pada tahap yang lain.
b.  Tahap ini biasanya dimulai sekitar 90 menit setelah mulai tidur
c.   Hal ini dicirikan oleh respon otonom dari pergerakan mata yang cepat, fluktuasi jantung dan kecepatan respirasi dan peningkatan atau fluktuasi tekanan darah
d.  Terjadi tonus otot skelet penurunan
e.  Peningkatan sekresi lambung
f.   Sangat sulit sekali membangunkan orang yang tidur
g.  Durasi dari tidur REM meningkat pada tiap siklus rata-rata 20 menit


1.1.5     Faktor yang memengaruhi istirahat dan tidur
Pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur setiap orang berbeda-beda. Ada yang kebutuhannya terpenuhi dengan baik. Ada pula yang mengalami gangguan. Seseorang bisa tidur maupun tidak dipengaruln oleh beberapa faktor, di antaranya sebagai berikut (Asmadi, 2008):
a.    Status kesehatan
Seseorang yang kondisi tubuhnya sehat memungkinkan dia dapat ndur dengan nyenyak. Tetapi pada orang yang sakit dan rasa nyeri, maka kebutuhan istirahat dan tidurnya tidak dapat dipenuhi dengan baik sehingga ia tidak dapat tidur dengan nyenyak. Misalnya, pada klien yang menderita gangguan pada sistem pernapasan. Dalam kondisinya yang sesak napas, maka seseorang tidak mungkin dapat istirabat dan tidur.
b.    Lingkungan
Lingkungan dapat meningkatkan atau menghalangi seseorang untuk tidur. Pada lingkungan yang tenang memungkinkan seseorang dapat tidur dengan nyenyak. Sebaliknya lingkungan yang ribut, bising, dan gaduh akan menghambat seseorang untuk tidur.
c.    Stres psikologis
Cemas dan depresi akan menyebabkan gangguan pada frekuensi tidur. Hal ini disebabkan karena pada kondisi cemas akan meningkatkan nonepinefrin darah melalui sistem saraf simpatis. Zat ini akan mengurangi tahap IV NREM dan REM.
Berdasarkan penelitian Desita Febriana tahun 2011 tentang “Kajian Stres Hospitalisasi Terhadap Pemenuhan Pola Tidur Anak Usia Prasekolah Di Ruang Anak Rs Baptis Kediri”, Keadaan hospitalisasi dapat menjadi stresor bagi anak saat dirawat di rumah sakit, sehingga anak akan mengalami stres hospitalisasi yang ditunjukkan dengan adanya perubahan beberapa perilaku pada anak. Apabila masalah tidak teratasi, maka hal ini akan menghambat proses perawatan anak dan kesembuhan anak itu sendiri. Dalam penelitin tersebut terbukti 85% anak mengalami stres hospitalisasi sedang pada anak di Ruang Anak Rumah Sakit Baptis Kediri dan 62% anak mengalami gangguan pola tidur pada anak usia prasekolah.
d.    Diet
Makanan yang banyak mengandung L-Triptofan seperti keju, susu, daging, dan ikan tuna dapat menyebabkan seseorang mudah tidur. Sebaliknya, minuman yang mengandung kafein maupun alkohol akan mengganggu tidur.
e.    Gaya hidup
Kelelahan dapat mempengaruhi pola tidur seseorang. Kelelahan tingkat menengah orang dapat tidur dengan nyenyak. Sedangkan pada kelelahan yang berlebihan akan menyebabkan periode tidur REM lebih pendek.

f.     Obat-obatan
Obat-obatan yang dikonsumsi seseorang ada yang berefek menyebabkan ada pula yang sebaliknya mengganggu tidur. Misalnya, obat golongan amfetamin akan menurunkan tidur REM

1.1.6     Gangguan tidur
Beberapa gangguan tidur menurut Asmadi (2008) adalah sebagai berikut:
1.  Insomnia
Insomnia dapat berupa kesulitan untuk tidur atau kesulitan untuk tetap tertidur. Bahkan seseorang yang terbangun dari tidur, tetapi merasa belum cukup tidur dapat disebut mengalami insomnia. Dengan demikian, insomnia merupakan ketidakmampuan untuk mencukupi kebutuhan tidur baik secara kualitas maupun kuantitas. Kenyataannya, insomnia bukan berarti sama sekali seseorang tidak dapat tidur atau kurang tidur karena orang yang menderita insomnia sering dapat tidur lama dari yang mereka perkirakan, tetapi kualitasnya kurang.
Ada tiga jenis insomnia yaitu:
a. insomnia inisial, adalah ketidakmampuan seseorang untuk memulai tidur
b.Insomnia intermiten adalah ketidakmampuan untuk mempertahankan tidur atau keadaan sering terjaga dari tidur
c. insomnia terminal adalah bangun secara dini dan tidak dapat tidur lagi.
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang mengalami insomnia di antaranya adalah rasa nyeri, kecemasan, ketakutan, tekanan dan kondisi vang tidak menunjang untuk tidur. Perawat dapat membantu klien mengatasi insomnia melalui pendidikan kesehatan, menciptakan lingkungan yang nyaman, melatih klien relaksasi, dan tindakan lainnya.
Ada beberapa tindakan atau upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi insomnia yaitu:
a.    Memakan makanan berprotein tinggi sebelum tidur, seperti keju atau susu. Diperkirakan bahwa triptofan, yang merupakan suatu asam amino dari protein yang dicerna, dapat membantu agar mudah tidur
b.    Usahakan agar selalu beranjak tidur pada waktu yang sama.
c.    Hindari tidur di waktu siang atau sore hari.
b.    Berusaha untuk tidur hanya apabila merasa benar-benar kuntuk dan tidak pada waktu kesadaran penuh.
c.    Hindari kegiatan kegiatan yang membangkitkan minat sebelum tidur.
d.    Lakukan latihan-latihan gerak badan setiap hari, tetapi tidak menjelang tidur.
e.    Gunakan teknik-teknik pelepasan otot-otot serta meditasi sebelum berusaha untuk tidur.


2.  Somnambulisme
Somnambulisme merupakan gangguan tingkah laku yang sangat kompleks mencakup adanya otomatis dan semipurposeful aksi motorik, seperti membuka pintu, menutup pintu, duduk di tempat tidur, menabrak kursi, berjalan kaki, dan berbicara. Termasuk tingkah laku berjalan dalam beberapa menit dan kembali tidur (Japardi 2002). Somnambulisme ini lebih banyak terjadi pada anak-anak dibandingkan orang dewasa. Seseorang vang mengalami somnambulisme mempunyai risiko teriadinya cedera. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi somnambulisme yaitu dengan membimbing anak untuk mengantisipasi risiko teriadinya cedera pada anak, maka anak harus dibimbing untuk kembali ke tempat tidur. Selain itu membuat lingkungan yang nyaman dan aman, serta dapat pula dengan menggunakan obat seperti Diazepam dan Valium.

3.  Enuresis
Enuresis adalah kencing yang tidak disengaia (mengompol). Tejadi pada anak-anak dan remaja, paling banyak terjadi pada laki-laki. Penvebab secara pasti belum jelas, tetapi ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan enuresis seperti gangguan pada bladder, stres, dan toilet training yang kaku. Upaya vang dapat dilakukan untuk mencegah enuresis antara hindari stres, hindari minum yang banyak sebelum tidur, dan kosongkan kandung kemih (berkemih dulu) sebelum tidur.
Menurut Wong (2008), usia anak dalam mencapai kontinensia urine sangat bervariasi. Misalnya anak kulit putih di amerika serikat cenderung mencapai kontinensia lebih awal dari pada anak-anak afrika amerika. Selain itu, anak-anak d inggris dan swedia lebih awal dr amerika serikat. Anak-anak digos afrika mencapai control kandung kemihnya usia 12 bulan.
Berdasarkan penelitian , beberapa fktor yang mempengaruhi enuresis yaitu riwayat enuresis pada keluarga merupakan faktor genetik terjadinya enuresis, Umur diajarkan toilet training pada anak, Lama pemberian ASI 57%. Anak yang mendapatkan ASI selama 6 bulan atau lebih tidak mengalami enuresis. Enuresis sering dihubungkan dengan adanya keterlambatan perkembangan anak. Stabilitas dan kontrol sphingter urinarius akan tercapai melalui maturasi dan perkembangan saraf. Pada anak yang mendapatkan ASI dapat meningkatkan perkembangan saraf dan anak akan mempunyai kemampuan perkembangan yang lebih baik.

4.  Narkolepsi
Narkolepsi merupakan suatu kondisi yang dicirikan oleh keinginan yang tak terkendali untuk tidur. Dapat dikatakan pula bahwa narkolepsi adalah serangan mengantuk yang mendadak, sehingga ia dapat tertidur pada setiap saat di mana serangan tidur (kantuk) tersebut datang. Serangan narkolepsi ini dapat menimbulkam bahaya apabila terjadi pada waktu mengendarai kendaraan, pekerja yang bekerja pada alat-alat yang berputar-putar, atau berada di tepi jurang. Obat-obat agripnotik dapat digunakan untuk mengendaljkan narkolepsi yaitu sejenis obat yang membuat orang tidak dapat tidur di antaranya jenis amfetamin.

5.  Night terrors

Night terrors adalah mimpi buruk. Umumnva terjadi pada anak usia 6 tahun atau lebih. Setelah tidur beberapa jam, anak tersebut langsung terjaga dan berteriak, pucat dan ketakutan.


6.  Mendengkur
 
Mendengkur disebabkan oleh adanya rintangan terhadap pengaliran udara di hidung dan mulut. Amandel yang membengkak dan adenoid dapat meniadi faktor yang turut menyebabkan mendengkur. Pangkal lidah yang menyumbat saluran napas pada lansia. Otot-otot di bagian belakang mulut mengendur bergetar jika dilewati udara pernapasan.

1.2        Asuhan Keperawatan Dalam Pemenuhan Kebutuhan Istirahat Dan Tidur
1.2.1     Pengkajian
Aspek yang perlu dikaji pada klien untuk mengidentifikasi mengenai gangguan kebutuhan istirahat dan tidur meliputi pengkaiian mengenal:
A.    Riwayat tidur
1.    Pola tidur, seperti jam berapa klien masuk kamar untuk tidur, jam berapa biasa bangun tidur, dan keteraturan pota tidur klien;
2.    Kebiasaan yang dilakukan klien menjelang tidur, seperti membaca buku, buang air kecil, dan lain-lain;
3.    Gangguan tidur yang sering dialami klien dan cara mengatasinya;
4.    Kebiasaan tidur siang;
5.    lingkungan tidur klien. Bagaimana kondisi lingkungan tidur apakah kondisinva bising, gelap, atau suhunya dingin? dan lain lain;
6.    Peristiwa yang baru dialami klien dalam hidup. Perawat mempelajari apakah peristiwa, yang dialami klien, yang menyebabkan klien mengalami gangguan tidur?;
7.    Status emosi dan mental klien. Status emosi dan mental memengaruhi terhadap kemampuan klien untuk istirahat dan tidur. Perawat perlu mengkaji mengenai status emosional dan mental klien, misalnya apakah klien mengalami stres emosional atau ansietas?, juga dikaji sumber stres yang dialami klien.
8.    Perilaku deprivasi tidur yaitu manifestasi fisik dan perilaku yang timbul sebagai akibat gangguan istirahat tidur, seperti:
a.  Penampilan wajah, misalnya adakah area gelap di sekitar mata, bengkak di kclopak mata, konjungtiva kemerahan, atau mata yang terlihat cekung;
b.  Perilaku yang terkait dengan gangguan istirabat tidur, misalnya apakah klien mudah tersinggung, selalu menguap, kurang konsentrasi, atau terlihat bingung;
c.   Kelelahan, misalnya apakah klien tampak lelah, letih, atau lesu.
d.   
B.    Gejala Klinis
Gejala klinis yang mungkin muncul: perasaan lelah, gelisah, emosi, apetis, adanya kehitaman di daerah sekitar mata bengkak, konjungtiva merah dan mata perih, perhatian tidak fokus, sakit kepala.

C.    Penyimpangan Tidur
Kaji penyimpangan tidur seperti insomnia, somnambulisme, enuresis, narkolepsi, night terrors, mendengkur, dll


D.   Pemeriksaan fisik
1.    Tingkat energy, seperti terlihat kelelahan, kelemahan fisik, terlihat lesu
2.    Ciri-ciri diwajah, seperti mata sipit, kelopak mata sembab, mata merah, semangat
3.    Ciri-ciri tingkah laku, seperti oleng/ sempoyongan, menggosok-gosok mata, bicara lambat, sikap loyo
4.    Data penunjang yang menyebabkan adanya masalah potensial, seperti obesitas, deviasi septum, TD rendah, RR dangkal dan dalam

1.2.2     Diagnosa keperawatan
Diagnosis keperawatan yang mungkin ditemukan pada klien dengan gangguan pemenuhan istirabat tidur menurut Asmadi (2008), antara lain:
a.    Gangguan pola tidur
disebabkan karena ansietas yang klien, lingkungan yang tidak kondusif untuk tidur (misalnya, lingkungan yang bising), ketidakmampuan mengatasi stres yang dialami, dan nyeri akibat penyakit yang diderita, Insomnia, hiperinsomnia, kehilangan tidur REM, ketakutan
b.    Perubaban proses berpikir
Perubahan proses berpikir ini disebabkan oleh terjadinya deprivasi tidur.
c.    Gangguan harga diri
Gangguan harga diri terutama diatami pada klien yang mengalami enuresis.
d.    Risiko cedera
Resiko cedera terutama pada klien yang menderita somnambulisme. Klien melakukan aktivitas tanpa disadari sehingga berisiko terjadinya kecelakaan, bisa berupa jatuh dari tempat tidur, turun tangga, atau membentur tembok.


1.2.3     Perencanaan
No
Diagnosa
Tujuan dan kriteria hasil
Intervensi
1.
Gangguan pola tidur b/d perubahan siklus, ketidakmampuan mengatasi stres yang berlebihan
1.   Data subjektif
a.    klien mengatakan mengalami gangguan tidur insomnia
b.    klien mengatakan tidurnya sering terbangun dan susah untuk tidur kembali
c.    klien mengatakan saat terbangun kepalanya pusing dan sat pertama kali tidur kepala seperti berputar-putar
d.    klien mengatakan mengalami masalah tidur sejak 2 bulan yang lalu
e.    klien mengatakan kesulitan tertidur setiap hari
f.     klien mengatakan butuh waktu 2-4 jam untuk tertidur namun 1-3 kemudian terbangun dn susah untuk tidur kembali
g.    klien mengatakan sebelum tidur biasanya melihat TV sebentar
h.    klien mengatakan saat beraktivitas merasa kelelahan dan keletihan
2.   Data objektif
a.    Klien terlihat kelelahan
b.    Terlihat lingkar hitam disekitar mata
c.    Wajah terlihat kusam
d.    Terlihat gelisah
e.    Tidur selalu terbangun
f.     Tidur tidak pernah tenang
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2X24 jam, klien dapat mempertahankan pola tidur dalam batas rentang normal ±6 jam

Kriteria hasil:
Klien menunjukkan pola tidur dalam batas rentang normal ±6 jam
a.    Ciptakan lingkungan yang nyaman, dengan:
1.    Pintu kamar klien ditutup.
2.    Kurangi stimulus, misalnya percakapan.
3. Tempatkan klien dengan teman yang cocok, dan lain-lain
b.    Membantu kebiasaan klien sebelum tidur, misalnya dengan mendengarkan musik, membaca, dan berdoa. Pada klien anak anak, dapat dilakukan dengan membacakan dongeng, memegang boneka atau benda yang disukainya.
c.    Diet
1.     Aniurkan klien untuk memakan makanan yang mengandung tinggi protein, seperti susu dan keju.
2.     Hindari banyak minum sebelum tidur.
d.    Hindari latihan fisik yang berlebihan sebelum tidur
e.    Hindari rangsangan mental yang tidak menyenangkan sebelum tidur. Maksudnya, usahakan psikologis klien tenang, tidak cemas, ataupun stres sebelum tidur.
f.     Berikan rasa nyaman dan rileks, misalnya dengan:
1.    Mengatur posisi yang nyaman untuk tidur
2.    Anjurkan klien berkemih sebelum tidur
3. Tempat tidur yang bersih dan tidak boleh basah
4. Pada klien nyeri, berikan obat analgesik menit sebelum tidur
g.    Hindari kegiatan yang membangkitkan minat sebelum tidur
h.    Berdoa sesuai dengan agamanya.


1.2.4     Implementasi
Hari/tanggal
Diagnosa
Jam
Tindakan
Rabu, 12 Desember 2012
Gangguan pola tidur b/d perubahan siklus, ketidakmampuan mengatasi stres yng berlebihan
08.00



08.20



08.25



08.30
08.40


08.50


09.00
1.    Dilakukan modifikasi lingkungan yang nyaman, dengan:
a.    Pintu kamar klien ditutup.
b.    Mengurangi stimulus, misalnya percakapan.
c.    Tempatkan klien dengan teman yang cocok, dan lain-lain
2.    Membantu kebiasaan klien sebelum tidur, misalnya dengan mendengarkan musik, membaca, dan berdoa. Pada klien anak anak, dilakukan dengan membacakan dongeng, memegang boneka atau benda yang disukainya.
3.    Diet
a.    menganjurkan klien untuk makanan yang mengandung tinggi protein, seperti susu dan keju.
b. Menganjurkan klien untuk menghindari banyak minum sebelum tidur.
4.    Menganjurkan klien menghindari latihan fisik berlebihan sebelum tidur
5.    Menganjurkan klien menghindari rangsangan mental yang tidak menyenangkan sebelum tidur. Maksudnya, usahakan psikologis klien tenang, tidak cemas, ataupun stres sebelum tidur.
6.    Memberikan rasa nyaman dan rileks, dengan:
a.     Mengatur posisi yang nyaman untuk tidur
b.     Anjurkan klien berkemih sebelum tidur
c.     Tempat tidur yang bersih dan tidak boleh basah
d.     Pada klien nyeri, berikan obat analgesik menit sebelum tidur
7.    Menganjurkan klien menghindari kegiatan yang membangkitkan minat sebelum tidur
8.    Menganjurkan klien menghindari berdoa sesuai dengan agamanya

1.2.5     Evaluasi
Hari/tanggal
Diagnosa
Jam
Evaluasi
Selasa, 12 Desember 2012
Gangguan pola tidur b/d perubahan siklus, ketidakmampuan mengatasi stres yng berlebihan
14.00
S:  Pasien mengatakan dapat tidur dalam jangka waktu 20-30 menit, pada waktu tidur tidak sering terbangun, jika terbangun akan mudah tidur kembali, meningkatnya waktu tidur sesuai yang diharapkan, mengingat kembali mimpi yang dialaminya, menyatakan perasaannya tenang sesudah tidur, bebas dari kecemasan dan depresi, dapat bekerja dengan baik dan penuh konsentrasi, Klien dan keluarga mampu menjelaskan faktor2 yang dapat meningkatkan tidur
O: klien tampak tenang saat di wawancarai setelah bangun tidur
A: masalah teratasi
P: intervensi dihentikan



DAFTAR PUSTAKA

Asmadi. 2008. Teknik Prosedural Keperawatan: Konsep Dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta: Salemba Medika
Febriana, Desita. 2011. Kajian Stres Hospitalisasi Terhadap Pemenuhan Pola Tidur Anak Usia Prasekolah Di Ruang Anak Rs Baptis Kediri. http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/stikes/article/download/18429/18244. [11 Desember 2012]
Potter, Patricia A. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses Dan Praktik. Edisi 4. Jakarta: EGC
Soetjiningsih, I Gusti Ayu Trisna Windiani. Prevalensi dan Faktor Risiko Enuresis pada anak Taman Kanak-Kanak di Kota madya Denpasar. http://www.idai.or.id/saripediatri/pdfile/10-3-2.pdf. [12 Desember 2012]
Wong, Donna L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Edisi 6. Jakarta: EGC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar